Apa Itu PRAGMATISME ?

Apa Itu PRAGMATISME

Apa Itu PRAGMATISME

Pengertian Pragmatisme

 

Kata Pragmatisme diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan (Encyclopedia Americana,15:683) dan guna. Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914), filosof Amerika yang pertama kali menggunakan Pragmatisme sebagai metode filsafat (Stroh,1968), tetapi pengertian pragmatisme telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles, Berkeley, dan Hume. Bila pragmatisme disangkutkan dengan Empirisme maka sejarah pragmatisme berarti tersebar pada banyak filosof besar lainnya, satu di antaranya adalah John Locke.

Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1900. Pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide tidak “benar” atau “salah” melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis itu membawa akibat praktis yang bermanfaat.(Harun Hardiwijono, 1990.hlm 130)[1]

William James mengatakan bahwa secara ringkas pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui. Pairce-lah yang membiasakan istilah ini dengan ungkapannya, “tentukan apa akibatnya, apakah dapat dipahami secara praktis atau tidak. Kita akan mendapat pengertian tentang objek itu, kemudian konsep kita tentang akibat itu, itulah keseluruhan konsep objek tersebut.”[2]


William James yang memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat. Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya ia mengalami konflik antara pandangan agama. Ia beranggapan bahwa masalah kebenaran, tentang asal atau tujuan dan hakikat bagi orang amerika terlalu teoritis. Yang ia inginkan adalah hasil-hasil yang konkrit. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari idea tau konsep haruslah diselidiki konsekuensi-konsekuensi praktisnya.[3]

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Misalnya, berbagai pengalaman pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.[4]


Pragmatisme Berpegang Teguh pada Praktek

 

Penganut Pragmatisme menaruh perhatian pada praktek. Mereka memandang hidup manusia sebagai suatu perjuangan untuk hidup yang berlangsung terus-menerus yang di dalamnya terpenting ialah konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis. Konsekuensi yang bersifat praktis tersebut erat hubungannya dengan makna kebenaran, demikian eratnya sehingga oleh penganut pragmatism dikatakan bahwa kedua hal tersebut sesungguhnya merupakan ketunggalan. Salah seorang diantara peletak dasar pragmatisme C.S. Peirce, mengatakan secara demikian :”untuk memastikan makna apakah yang dikandung oleh sebuah konsepsi akali, maka kita harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi praktis apakah yang niscaya akan timbul dari kebenaran konsepri tersebut”.[5]

Jika tidak menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang praktis, maka sudah tentu tidak ada makna yang dikandungnya. Kesimpulan yang terakhir ini dinyatakan dalam semboyan yang menarik :”Apa yang tidak mengakibatkan perbedaan tidak mengandung makna”. Makna yang dikandung sebuah pernyataan tersebut dalam konsekuensi yang niscaya timbul dari pernyataan yang dianggap benar.[6]


Copyright © 2015 Pixel Theme Studio. All rights reserved.